Korupsi Sejak dalam Pikiran

Ribuan hektar hutan kembali terbakar bulan lalu, tepatnya pada bulan Agustus 2016. Di Rokan Hilir menjadi daerah penyumbang titik panas terbanyak mencapai 36 titik dan tersebar ke beberapa titik. Kemudian ditambah lagi beberapa hari terakhir bagaimana konflik masyarakat Kendeng yang menolak pembangunan pabrik semen di wilayah mereka yang akan menimbulkan kerusakan ekologis dan berdampak pada generasi selanjutnya. Terakhir konflik tukar guling Pemerintah Kota Surabaya dengan PT. Ciputra Surya yang mengakibatkan masyarakat Waduk Sepat menjadi korban keputusan tersebut. Kejadian ini tidak terlepas dari keinginan perorangan atau kelompok untuk mengusai suatu sumber daya tanpa memedulikan dampaknya terhadap alam maupun manusia di sekitarnya. Beberapa fakta di atas, membuat saya berpikir ulang. Apa yang sebenarnya dilakukan manusia dalam memperlakukan alam. Atau manusia sedang mengingkari apa yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan YME. Istilah korupsi bisa ditelisik lebih jauh bila kita ingin melihat sejauh mana manusia memperlakukan alam dan bagaimana awal mula manusia mulai lepas dari determinisme alam.

Continue reading “Korupsi Sejak dalam Pikiran”

Islam Sontoloyo!

images

Bagian pertama Ir. Soekarno merasa ada yang janggal ketika membaca surat kabar “Pemandangan” yang memberitakan mengenai kasus seorang Kiyai yang ‘memperkosa’ muridnya sendiri dan yang menarik adalah ketika itu dilakukan secara sah dan halal lantaran sesuai dengan hukum fiqh yang berlaku. Dalam ajarannya, Kiyai tersebut menungkapkan bahwa “perempuan itu bisa disedekahkan”, selanjutnya dalam menjalankan ajarannya laki-laki dan perempuan dipisah. Laki-laki mendapatkan tempat spesial (khusus) di mushola, sedangkan perempuan berada di suatu rumah yang terpisah oleh murid laki-laki Kiyai tersebut. Kejanggalan pun berlangsung, dengan dalih perempuan ketika menjalankan ajarannya harus ditutup mukanya dan haram dilihat oleh laki-laki yang bukan mahramnya inilah yang membuat Kiyai melancarkan ajaran menyimpangnya dengan memahramkan dulu atau menikahi dulu perempuan yang menjadi muridnya tersebut. Dengan alasan, sewajarnya seorang guru harus lah melakukan komunikasi dengan muridnya. Meskipun murid perempuannya sudah memiliki suami yang notabennya adalah murid laki-lakinya sendiri, ini tak menjadi penghalang bagi si Kiyai tersebut melancarkan modusnya. Dengan cara memanggil laki-laki yang menjadi murid sekaligus suami dari perempuan tersebut, kemudian memintanya menjatuhkan talaq tiga dan dinikahkan secara bergilir ke murid laki-lakinya yang lain sebanyak tiga kali yang ujungnya diceraikan juga. Selanjutnya yang terkahir akan dinikahi sendiri oleh Kiyai itu.

Continue reading “Islam Sontoloyo!”

Kajian Sosiologi Gender Terhadap Fenomena Perlawanan Ibu-Ibu Rembang dalam Memperjuangkan Lingkungan

rem

Beberapa waktu terakhir kita dibuat terharu dengan apa yang dilakukan oleh Ibu-ibu Rembang dalam mempertahankan tanahnya yang tengah dirongrong oleh PT Semen Indonesia. Terhitung sejak Juni 2014, puluhan Ibu-ibu petani di desanya memutuskan untuk mendirikan tenda perjuangan yang berada tepat di akses masuk alat-alat berat pabrik. Pemilik perusahaan bukannya mengalah dan mengurungkan niatnya untuk mendirikan pabrik, mereka malah mengirimkan aparatur Negara untuk mengamankan dan mengintimidasi perjuangan Ibu-ibu petani yang tengah memperjuangkan haknya di sana.

Continue reading “Kajian Sosiologi Gender Terhadap Fenomena Perlawanan Ibu-Ibu Rembang dalam Memperjuangkan Lingkungan”

Telaah Sekularisasi dan Sekularisme dalam Fenomena Kanjeng Dimas Taat Pribadi (Bag. 2)

kanjeng-dimas

Islam Sekular

Secara sosiologis Talcott Parsons menunjukkan bahwa sekularisasi, sebagai suatu bentuk proses sosiologis, lebih banyak mengisyaratkan kepada pengertian pembebasan masyarakat dari belenggu takhayul dalam beberapa aspek kehidupannya, dan hal ini tidak berarti penghapusan orientasi keagamaan dalam norma-norma dan nilai kemasyarakatan. Dimana ini adalah sebuah kelanjutan logis  dari suatu bentuk orientasi keagamaan, khusunya monoteisme.

Continue reading “Telaah Sekularisasi dan Sekularisme dalam Fenomena Kanjeng Dimas Taat Pribadi (Bag. 2)”

Telaah Sekularisasi dan Sekularisme dalam Fenomena Kanjeng Dimas Taat Pribadi

kanjeng-dimas

Konsep Dasar Islam

Konsep “Islam” yang kami yakini dan dasar yang kami serukan, serta yang kami pandang sebagai jalan keselamatan di dunia  dan di akhirat, adalah sutu agama yang diturunkan kepadanya kitab suci bersama hukum mengenai akidah, ibadah, akhlak, adat-istiadat, dan  muamalat.[1] Sebagai umat Islam, kita selayaknya memahami dan mengamalkan konsep tersebut dengan baik, dan setiap individu akan menjadi bersih dan tatanan dalam keluarganya menjadi kokoh. Begitu juga ketika kita berinteraksi dengan masyarakat dan bernegara. Maka akan terciptanya suasana yang kondusif. Kemudian apabila manusia mengingkari pemahaman dan pengamalan konsep tersebut (menyimpang) kehidupan secara pribadi dan  kehidupan dalam bermasyarakat akan hilang karena jauh dari perintah-perintah Allah.

Continue reading “Telaah Sekularisasi dan Sekularisme dalam Fenomena Kanjeng Dimas Taat Pribadi”

FOOD, INC.

foodinc_promos_2

Review:

Food, Inc (baca: badan gabungan pangan) adalah sebuah film dokumenter tahun 2008 dari Amerika Serikat yang disutradarai oleh sutradara pemenang Emmy Award Robert Kenner. Film ini memeriksa produksi pangan agrikultur berskala besar di Amerika Serikat, dan menyimpulkan bahwa daging dan sayur-sayuran yang dihasilkan oleh perusahaan ekonomi tersebut memiliki banyak “biaya tersembunyi”, tidak sehat, dan membahayakan lingkungan. Film ini menampilkan Michael Pollan dan Eric Schlosser sebagai narator, dua kritikus berat dari pertanian ala pabrik.[1] Continue reading “FOOD, INC.”

Dilema Mahasiswa Metrominiseksual

Riuh lebaran kali ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun yang lalu. Tepat 2 Juli 2016, saya dan keluarga mudik ke Banyuwangi untuk ziarah ke tanah leluhur dari garis keturunan Ayah. Kenapa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya? Kali ini kami sekeluarga menggunakan jasa mudik-balik gratis yang diselenggarakan sebuah perusahaan media cetak yang baru kemarin kembali meraih penghargaan internasional. Dalam Asian Media  Awards 2016 yang dihelat Asosiasi Surat Kabar Dunia (WAN-IFRA) Asia Pacific di Manila, Filipina, Rabu (30/3) malam, Jawa Pos menyabet dua penghargaan bergengsi.[1] Sebuah keputusan yang memang harus dilakukan oleh keluarga lantaran biaya transportasi yang tidak sedikit bila harus mengeluarkan kocek pribadi. Ditambah dengan morat-maritnya info seputar Gaji ke-13 yang bisa dibilang sangat diharapkan untuk meringankan biaya mudik ke kampung halaman. Sebagai masyarakat kelas menengah yang hidup di kota metropolitan seperti Surabaya memang harus pandai memutar otak dan uang agar bisa terus menghidupi dapur rumah tangga. Dan tak jarang malah harus merelakan tidak bisa bertemu sanak saudara di Kampung halaman lantaran biaya hidup yang sangat mahal di Surabaya. Sembilan kota menjadi pilihan destinasi yang ditawarkan oleh Radar Surabaya yang bekerja sama dengan Yamaha, seperti; Banyuwangi, Jember, Blitar, Trenggalek, Madiun, Ponorogo, dan Bojonegoro, Magetan dan Ngawi. Continue reading “Dilema Mahasiswa Metrominiseksual”