Telaah Eco-Ethics dalam menuju Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

muslim

Pict From Google

Dalam pejalanan keilmuannya, ekologi-manusia telah mengalami perdebatan panjang tentang apa dan bagaimana sebuah ilmu menentukan objek kajiannya. Kita mengetahui bahwa pada tahun 1866 ketika Haeckel mengenalkan bidang ilmu ekologi (manusia) dalam menjabarkan fenomena yang terjadi dalam pertautan manusia dengan alam semesta dan ilmu ekologi-biologi digunakan sebagai landasan awal membangun bidang ilmu ini. Secara epistemologis[1] kemunculan bidang ilmu ekologi manusia mengalami proses panjang dalam pergulatan demistifikasi beberapa statement of beliefs (kepercayaan) yang telah mengakar di masyarakat, yang kemudian coba dibuktikan secara empirik unuk mengkonseptualisasikan dan memahami pertautan antara sistem sosial dengan sistem alam di biosfer.

Secara ontologis[2], dengan tetap berlandaskan disiplin ilmu ekologi-biologi dengan mengkaji konsep dasar dari proses adaptasi dan maladaptasi ekologis untuk mengkaji sekelompok manusia atau komunitas lokal dalam bertahan hidup di suatu wilayah (kawasan). Menjadi gagasan tentang interaksi sistem sosial masyarakat dengan interaksinya dengan alam. Berikutnya, bentuk dinamika konflik sosial-ekologis seperti proses kompetisi, suksesi dan konflik sumberdaya alam menyertai manuver-manuver kelompok dalam mempertahankan kawasannya. Sedangkan, secara axiologis[3] ekologi manusia diperkaya dengan munculnya sebuah fenomena masyarakat beresiko (risk society). Dimana penggunaan teknologi dan gaya hidup yang serba instan membuat gampangnya legitimasi kepada kegiatan-kegiatan eksploitatif terhadap sumber daya alam. Sebenarnya juga, penulis perlu mengkritisi dan memaknai ulang tentang makna “sumber daya”. Karena makna sumber daya itu merupakan sebuah sebuah frasa yang cenderung berpihak kepada rezim positivistik yang menganggap alam hanya sebagai bahan baku bagi keberlangsungan manusia dan layak untuk ditundukkan. Dengan demikian perhatian penulis memusatkan kepada eco-ethics sebagai sebuah pisau dalam menganalisis apa yang terjadi di tempat penulis berada.

Dalam hal ini penulis memaknai eco-ethics sebagai teori-teori tentang moral ekologi, dimana semua kegiatan manusia yang berkaitan dengan alam semesta disediakan oleh eco-ethics sebagai aturan-aturan baku untuk bertindak/berperilaku (rule of conduct) dimana hak dan kewajiban manusia serta alam adalah sama. Dalam hal ini, sebuah etika tidak tiba-tiba ada dan kemudian memasukkan manusia ke dalam sebuah penjara di dalam aturannya, namun etika ini berjalan dengan sebuah proses konstruksi sosial dan berjalan secara evolusi. Beriringan dengan tiga proses yaitu internalisasi, obyektifikasi, dan eksternalisasi. Dalam pandangan penulis dengan mengambil konteks konflik alih fungsi lahan yang dilakukan korporasi-korporasi hari ini merupakan sebuah tindakan yang tidak beretika dengan melandaskan segala hal sebagai bentuk meterial dan mengedepankan jargon-jargon pembangunan yang bila kita telisik lebih jauh bahwa frasa “pembangunan” ini berawal setelah perang dunia ke-2 sebagai bentuk propaganda AS untuk meruntuhkan pemikiran yang bertentangan dengan liberalisme. Dengan kata lain, muslihat yang digunakan korporasi untuk terus melakukan pembangunan adalah sebuah kejahatan ekologis yang berusaha merampas identitas suatu komunitas masyarakat dari keterikatan mereka dengan alam. Dalam kasus Waduk Sepat contohnya, secara sosio-historis masyarakat yang sudah mendiami dan menjadi bagian dari sebuah ekosistem dimana mereka sangat bergantung dengan waduk tersebut sebagaimana makhluk lainnya, tiba-tiba dipaksa untuk berpisah dan melupakan identitasnya begitu saja. Bisa dibayangkan bila waduk tersebut benar-benar hilang karena sudah ditukar guling oleh Pemerintah Kota Surabaya dengan PT. Ciputra Surya, maka suksesi komunitas dalam generasi berikutnya yang lahir pasca tukar guling tersebut tidak akan mengenal siapa mereka dan bagaiamana mereka bisa tinggal dan bertahan hidup di sana. Celakanya bila paradigma tidak pernah didekonstruksi dan tidak pernah melihat yang lain di luar oposisi biner. Maka bukan tidak mungkin kita sebagai umat yang beragama sudah mengingkari tugas kita di bumi sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam semesta. Sedangkan Tuhan lewat Al-Quran menyerukan bahwa tugas manusia adalah menjadi rahmat bagi alam semesta:

وَمَآ أَرْسَلْنَـكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِّلْعَـلَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al Anbiya’: 107)

Jelas bahwa tugas manusia adalah menjalankan tugas yang telah Tuhan perintahkan, namun bila kita keluar dari rel yang sudah ditugaskan maka adzab Tuhan sangatlah pedih.

Wallahu A’lam Bishawab

Referensi:

Surah Al-Anbiya’:107

George Ritzer. Teori Sosilogi Modern, Jakarta: Prenada Media, 2004.

Arya Hadi Dharmawan. Dinamika Sosio-Ekologi Pedesaan: Perspektif dan Pertautan Keilmuan Ekologi Manusia, Sosiologi Lingkungan dan Ekologi Politik. Bandung: Sodality Jurnal Transdisiplin, Komunikasi, dan Ekologi Manusia Vol. 1 No.1.

[1] Epistemologi atau theory of knowledge adalah cabang filsafat yang menelaah asal-muasal dan ruang-lingkup sebuah ilmu pengetahuan (the nature and scope of knowledge).

[2] Ontologi adalah sebuah studi tentang eksistensi sebuah ilmu yang dijelaskan berdasarkan dari berbagai konsep dasar yang membangunnya.

[3] Axiologi adalah studi atau dimensi nilai atau karakter-kualitatif dari sebuah bidang ilmu, meliputi dimensi etika dan estetika.

Advertisements

Rindu

mama

Ibu, kulipat rindu ini.
Lalu kutitipkan kepada hujan,
Kemudian diantarkan oleh rintik-rintiknya
menuju tempat tidurmu.

Ibu, kubungkus mantra ini.
Lalu kutitipkan kepada sepertiga malam yang dingin dan hangat seketika,
Kemudian diantarkan oleh bala tentaranya menuju singgah sanamu.

Ibu, engkau harus janji suatu hari nanti
kita buka bersama lipatan dan bungkusan ini.
Duduk bersama sambil bercengkrama
tentang hal-hal yang belum sempat tersampaikan hari ini.

Sayonara Ibu..
Madiun 2017

Pembebasan

Credit: Kolase Hispter

Konsepsi pembebasan yang coba penulis jabarkan dan tawarkan dalam diskusi ini adalah apa, bagaimana, dan siapa yang perlu dibebaskan. Pada bagian awal ini penulis mencoba berangkat dari Kritik yang ditawarkan oleh Teori Kritis untuk membebasakan manusia dari berbagai belenggu.

 

 

 

Continue reading

Sebuah Perjalanan Yang Menyenangkan

KULIAH KERJA NYANTRI (KKN) #1
18 Juli 2017

jalan maastrip madiun

Raut wajah gembira menyelimuti kawan-kawan sejawat dalam menyambut upacara pembukaan dan pemberangkatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) gelombang ke-2 yang dilaksanakan pada pertengah bulan Juli hingga pertengahan bulan Agustus. Tepat beberapa minggu usai perayaan Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah. Kembali lagi ke prosesi upacara dan pemberangkatan KKN, di mana beberapa kawan mahasiswa yang hadir juga didampingi orang tua maupun sanak saudara yang turut melepas kepergian putra-putri mereka untuk belajar dan mengabdi di masyarakat.

Continue reading

Berta’aruf dengan Murray Bookchin (Bag. 2)

murray bookchin

Pada tahun 1974, dia mendirikan dan mengarahkan Institute for Social Ecology di Plainfield, Vermont, yang kemudian memperoleh reputasi internasional untuk kursus lanjutannya dalam ekofilosofi, teori sosial, dan teknologi alternatif. Pada tahun 1974 ia juga mulai mengajar di Ramapo College of New Jersey, di mana lulusan sekolah menengah yang berpendidikan tinggi ini akhirnya menjadi guru besar teori sosial; Dia pensiun pada tahun 1983 dan beralih ke status emeritus (sebuah penghormatan kepada profesor yang sudah pensiun, namun keahliannya tetap dibutuhkan). Pada tahun 1970 Bookchin aktif dalam gerakan anti-nuklir dan berpartisipasi dalam Aliansi Clamshell, menentang reaktor nuklir Seabrook di New Hampshire. Bukunya The Limits of the City (1974) melanjutkan eksplorasi masalah perkotaan dalam pemikiran sosial radikal. Buku berikutnya, The Spanish Anarchists (1977), adalah sejarah gerakan anarkis Spanyol sejak awal hingga pertengahan 1930an; Sebuah volume 2 yang direncanakan, yang dimaksudkan untuk meliput Revolusi Spanyol tahun 1936-37, tidak pernah ditulis (walaupun volume 4 Revolusi Ketiga, yang selesai pada tahun 2003, mencakup sebagian besar sejarah itu). Beberapa esai tahun 1970-an mengkritik perkembangan gerakan baru ekologi dan membedakan antara ekologi, yang dianggap radikal dan inovatif, dan lingkungan, atau pendekatan reformis atau berorientasi negara yang gagal mengatasi akar permasalahan ekologis. Esai ini berada dalam antologi dalam Toward an Ecological Society (Black Rose Books, 1981).

Continue reading

Berta’aruf dengan Murray Bookchin

murray bookchin

Beberapa waktu lalu saya berta’aruf dengan pencetus gagasan ekologi sosial yang dikenalkan oleh kawan-kawan Kelompok Belajar Ekologi sebagai salah satu pisau untuk membedah krisis sosial ekologis yang terjadi di Indonesia, terutama Jawa Timur. Seorang Filosof yang mengenalkan gagasan tersebut adalah Murray Bookchin yang lahir pada 14 Januari 1921 di Crotona Park yang merupakan bagian dari Bronx, Kota New York, Amerika Serikat. Di samping sebagai seorang filosof, Bookchin adalah seorang penulis, guru dan aktivis yang memulai gerakan politiknya sebagai seorang komunis, kemudian berubah menjadi seorang anarkis dan kemudian bermetamorfosis menjadi seorang ahli teori ekologi yang berpengaruh.

Continue reading

Saya Sedang Berada di Dalam Rumah Sakit

Dalam beberapa hari terakhir saya sering berkunjung ke beberapa rumah sakit yang terdapat di kota tempat tinggal saya. Beberapa kunjungan yang saya lakukan hanya sekedar mengantarkan untuk check-up, namun selebihnya adalah menginap di bangsal dengan berisikan 4-5 ranjang besi karena sedang merawat seseorang yang sedang opname. Di sisi lain bila saya sedang berada di rumah sakit, kebutuhan untuk mandi atau sekedar membersihkan diri merupakan kegiatan yang jarang sekali terpenuhi, apa lagi kebutuhan-kebutuhan untuk bersolek lainnya. Menariknya, selalu ada yang kurang ketika saya berusaha memenuhi kebutuhan tersebut (mandi atau sekedar membersihkan wajah) bila tidak memakai produk-produk tambahan yang ditawarkan oleh iklan-iklan dari berbagai media. Sebagai contohnya adalah produk pembersih wajah yang ditawarkan oleh salah satu perusahaan terkemuka, dengan berbagai keunggulan yang dijejalkan kepada saya secara berulang membuat saya seakan memang membutuhkannya sebagai salah satu identitas diri saya yang seharusnya. Seperti ada yang kurang ketika saya tidak memakai produk tersebut, muka menjadi terlalu berminyak dan rasanya tidak nyaman sekali bila harus bertatap muka dengan kondisi wajah sedemikian rupa.

Continue reading